Piramida Dan Proses Pembuatanya

Piramida Djoser

Piramida Djoser, atau kbhw-ntrw (persembahan kepada dewa), dibangun untuk firaun Djoser oleh arsiteknya Imhotep. Bangunan ini didirikan selama abad ke-27 SM di nekropolis Saqqara di barat laut kota Memphis.
Piramida Mesir pertama ini terdiri dari beberapa mastaba yang disusun bertumpuk. Piramida ini pada masa itu memiliki tinggi 62 meter dan diselubungi oleh marmer putih. Piramida Bertingkat (atau proto-piramida) dianggap merupakan bangunan batu berskala besar pertama yang dibangun.


Piramida Meidum

Piramida Meidum selesai dibangun pada 2570 SM merupakan piramida pertama yang tampak mengalami pengembangan teknik dalam membangun piramida sejak piramida Djoser dibangun. Piramida Meidum selesai dibangun hingga 7-8 tingkat, namun kemudian di masanya mengalami keruntuhan dan kemudian diabaikan oleh para arsitekturnya. Piramida Meidum diyakini dibangun untuk Fir’aun Huni, raja terakhir dari dinasti keempat yang dikudeta Sneferu.

Kegagalan pembangunan piramida Meidum

Dari keruntuhan piramida Meidum, para arsitektur bangsa Mesir mulai memahami untuk membangun piramida lebih tinggi maka lapisan dasar piramida harus dibuat lebih lebar lagi. Namun mereka belum belajar menggunakan bahan dasar pondasi yang kuat, sehingga bagian dalamnya mengalami kemiringan saat pembangunannya mencapai dua pertiganya. Kemudian mereka mulai mengurangi sudut bagian paling atas piramida sebagai solusi kestabilannya. Inilah yang kemudian lahir Piramida Bent dibangun pada 2565 SM yang awalnya didesain untuk tempat makam Fir’aun Sneferu, pendiri dinasti keempat.


Piramida Bent

Namun Fir’aun Sneferu tidak puas dengan piramida Bent, lalu memerintahkan untuk membangun kembali piramida yang baru dengan konstruksi dan bahan pondasi yang lebih baik dari sebelumnya serta sudut yang lebih kecil lagi. Akhirnya muncul yang sekarang ini dikenal sebagai piramida Merah (Red Pyramid) yang selesai dibangun pada 2560 SM dengan ketinggian yang sama dengan piramida Bent. Piramida Merah dianggap sebagai piramida pertama yang berhasil dibangun dengan bentuk yang seimbang dan lapisan luarnya sudah mulai tampak lebih halus tiap sudut tingkatnya. Di piramida Merah inilah kemudian jasad Fir’aun Sneferu disemayamkan.


Piramida Merah (piramida kedua Sneferu)


Perbandingan struktur piramida Khufu

The Great Pyramid atau Piramida Khufu diakui para ilmuwan sebagai piramida dengan struktur paling sempurna arsitekturalnya dibandingkan dengan piramid lainnya yang ada di Mesir. Piramida ini dibangun untuk makam Fir’aun Khufu (2547-2524 SM), raja kedua, anak Sneferu, dari dinasti keempat kerajaan Mesir.

MEMBANGUN PIRAMIDA MASIH TETAP MISTERI


Arsitek di balik pembangunan piramida ini adalah Hemienu dianggap sebagai arsitek brilian di jamannya. Hemienu mampu merancang strategi untuk menyusun jutaan batu besar yang beratnya rata-rata 2,5 ton.


Sebesar inilah bongkahan batu yang menyusun Piramida Khufu


Hemienu sang arsitek Piramida Khufu

Bagaimana Hemienu merancang dan membangun piramida Khufu? Hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Hemienu dianggap mampu memberdayakan keterbasan peradaban di jamannya dengan imajinasi di luar batas untuk membangun bangunan yang luar biasa strukturnya.

Petunjuk awal didapat dari seorang sejarawan asal Yunani, Herodotus, yang sempat singgah di Mesir sekitar 450 SM. Dalam catatannya ia menyebut-nyebut “mesin-mesin” digunakan untuk menaikkan bongkahan batu, kalau diasumsikan mungkin yang dimaksud adalah semacam mesin derek. Masalahnya, Herodotus datang 2000 tahun setelah piramida Khufu berdiri, jadi tidak menyaksikan langsung proses pembangunannya.

300 tahun kemudian, seorang penulis dari pulau Sisilia, Italia, yang bernama Diodorus menyebutkan: “Konstruksinya dibuat dengan gundukan tanah”. Mungkin yang dimaksud “gundukan tanah” adalah bongkahan batu itu dibawa melalui jalan layang menanjak.

Sempat pula muncul teori “mahluk asing” yang membangun piramida tersebut dengan dasar pemikirannya bahwa peradaban bangsa Mesir kala itu tidak memungkinkan untuk membangun struktur bangunan super besar yang menakjubkan seperti itu.

Sudah tentu ilmuwan modern lebih terfokus pada dua catatan Herodotus dan Diodorus karena dianggap lebih bisa diterima akal ilmiah. Lalu mengapa para ilmuwan masih juga tetap tak terpecahkan hingga kini? Hal ini karena catatan-catatan keduanya minim akan rincian, sehingga ringkasnya informasi mereka membuat banyak sekali kemungkinan-kemungkinan kombinasi dari “mesin” dan “gundukan tanah”. Untuk menyimak variasi dari teori-teori ini silahkan [klik di sini]

John Romer, penulis buku “The Great Pyramid: Ancient Egypt Revisited”, menyebutkan pembangunan piramida Khufu ini melibatkan sekitar 100.000 budak pekerja selama 20 tahun, menggunakan lebih dari 2 juta buah bongkahan batu, dengan total berat semua batu-batuan sekitar 5,5 juta ton.

Piramida Khufu menurut kesepakatan para ilmuwan dibangun selama kira-kira 20 tahunan. Franz Löhner dalam artikelnya: “Pyramidenbau mit Hilfe von Seilrollenböcken direkt auf der Pyramidenflanke”, menyebutkan bahwa yang menjadi tantangan terbesar dari teori-teori tersebut adalah harus bisa mengkalkulasi dengan tepat bagaimana sebuah batu dengan berat 2,5 ton diangkut dan dinaikkan setiap 1-2 menit sehingga piramida selesai dibangun dalam jangka waktu maksimum 20 tahun.


TEORI ROPE-ROLL

Franz Löhner menyuguhkan teori alternatif yang berbeda yaitu Rope Roll. teorinya cenderung dominan lebih banyak melibatkan teori penggunakan “derek” ketimbang “gundukan tanah” (Ramps). Ia berargumen penggunaan derek lebih bisa mengakomodasi kecepatan mengangkut bongkahan batu sekitar 1-2 menit dengan kecuraman tanjakan maksimal 52 derajat.

TEORI EXTERNAL AND INTERNAL RAMP

Teori yang terbaru disuguhkan oleh tim peneliti dari Perancis yang dipimpin oleh Jean-Pierre Houdin. Terdapat keunggulan dari teori ini, misalnya saja sudah mulai melibatkan teknologi simulasi komputer 3D buatan perusahaan Dassault Systemes. Teori Houdin ini merupakan kombinasi antara jalan layang dan derek yang lebih dikenal dengan External and Internal Ramps.

Teori External and Internal Ramp dari Jean-Pierre Houdin

TAHAP AWAL: Dipilih area yang kira-kira bisa digunakan sebagai lahan untuk pondasi seluas 5,3 hektar (13 acre).

Area yang dipilih harus pula memiliki sumber daya bebatuan yang bisa digunakan sebagai bahan untuk membangun piramida.

Diyakini pula bahan bebatuan didatangkan dari luar area ini yang diangkut melalui transportasi perahu. Hal ini didasari keberadaan piramida Khufu berada di dekat sungai Nil di mana di ujung sungai ini bertemu dengan laut.

5 TAHUN: Jalur layang menanjak (external ramp) digunakan untuk menyusun lapisan pertama yang selesai dibangun sekitar 5 tahunan.

External ramp ini terdiri dari dua jalur: jalur angkut dan jalur pulang. Nantinya bahan batu yang membangun external ramp ini akan dikanibalisasi untuk digunakan lapisan piramid berikutnya hingga ke puncak. yang mencapai ketinggian sekitar 43 meter. Jalan layang ini mempunyai dua jalur untuk jalur angkut dan angkat batu.

15 TAHUN: Grand Gallery dan King’s Chamber (tempat untuk jenazah Khufu) yang berada di tengah-tengah piramida telah selesai dibangun. Tahap ini jalur layang dua jalur masih tetap digunakan.

20 TAHUN: External ramp setelah mulai dikanibalisasi setelah lapisan tengah selesai dibangun. Untuk mengangkut bongkahan batu mulai digunakan jalur lorong internal (internal ramp). Penggunaan jalur lorong spiral dengan kemiringan 6,3 derajat di setiap sisi ini, lebih efisien dalam menggunakan bahan batu dibandingkan bila harus dibangun jalan layang untuk mencapai hingga ke puncak piramida

Di setiap sudut yang menjadi ujung jalur lorang internal, terdapat semacam derek pemutar untuk memutar balok batu 90 derajat agar bisa diangkut naik ke tingkat selanjutnya.

21 TAHUN: Setelah puncak piramida selesai diletakkan, selanjutnya semua lapisan piramida dilapisi atau dibalur oleh batu-batuan semacam batu kapur dengan kualitas tinggi agar tampak lebih halus. Internal ramp tidak dihancurkan melainkan tetap dipertahankan untuk memastikan struktur piramida tetap dalam proporsinya.

BUKTI PENDUKUNG TEORI HOUDIN

Keunggulan teori Houdin (External and Internal Ramp) didukung oleh bukti hasil pemindaian Miicrogravimetry pada tahun 1980-an yang memperlihatkan adanya intensitas tertentu yang bentuknya menyerupai jalur lorong internal yang dikemukakan Houdin.


Warna hijau menunjukkan adanya intensitas jalur lorong internal

Selain itu, ditemukan pula sebuah celah ruangan di sebuah sudut di piramida Khufu yang semakin memperkuat dugaan adanya penggunaan jalur lorong internal untuk mengangkut batu hingga ke puncak piramida. Bermula ketika salah seorang anggota tim dari Perancis pada tahun 1986 melihat seekor rubah gurun masuk ke sebuah lubang yang belum pernah teridentifikasi.


Temuan sebuah ruangan di sudut piramida Khufu

MISTERI LAIN YANG MASIH TERSISA

Tak hanya bagaimana cara Hemeinu menyusun tumpukan batu 2,5 ton yang masih menjadi misteri. Beberapa bagian di dalam piramida Khufu baru ditemukan di kemudian hari dan hingga kini masih tetap diungkap fungsi dan keberadaannya oleh para ilmuwan.

Richard C. Hoagland dalam artikelnya, “A Secret Tunnel Being Excavated in the Great Pyramid”, telah menginformasikan sebuah temuan lorong yang belum diketahui seluk beluknya. Lorong ini berada di ruang Grand Gallery dan di ruang makam raja.

Zahi Hawass dalam rilis artikelnya, “The Secret Doors Inside the Great Pyramid”, memberitakan pula adanya ekspedisi tim ilmuwan untuk menelusuri sebuah lorong misteri di Queen’s Chamber. Para ilmuwan kali ini melibatkan teknologi robot yang dilengkapi dengan kamera fiber optic untuk penelusuran lorong yang belum terjamah ini.

Sumber : dokter-hanny.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s